Ada yang ganjil kalau dipikir baik-baik tentang Embung Nglanggeran. Kolam seluas kira-kira 60 x 60 meter itu berada di atas bukit, bukan di lembah. Airnya tetap penuh di puncak musim kemarau, saat sumur-sumur di sekitarnya mulai menyusut.

Air secara alami mengalir ke bawah, bukan bertahan di atas bukit. Jadi apa yang menahannya tetap di sana?

Jawabannya ada di lapisan yang tidak terlihat sama sekali dari permukaan, yaitu lapisan kedap air di dasar dan dinding embung. Penggunaan geomembrane embung Nglanggeran dan embung-embung sejenis di Gunungkidul berpusat pada persoalan ini: menahan air supaya tidak lolos ke dalam tanah.

Mengenal Embung Nglanggeran

Embung ini berada di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta, tepatnya di Bukit Gandu yang masih satu kawasan dengan Gunung Api Purba Nglanggeran.

Pembangunannya dimulai tahun 2012 dan diresmikan pada 19 Februari 2013. Ukurannya sekitar 60 x 60 meter dengan kedalaman mencapai 3 meter. Airnya bersumber dari mata air di lereng gunung yang dialirkan lewat pipa masuk ke kolam.

Fungsi utamanya bukan pariwisata, meski akhirnya jadi terkenal karena pemandangan matahari terbenamnya. Embung ini dibangun untuk mengairi kebun buah warga seluas lebih dari 18 hektare, yang ditanami durian montong, kelengkeng, kakao, alpukat, dan rambutan.

Tanaman buah punya kebutuhan yang berbeda dari padi. Mereka tidak butuh air melimpah setiap hari, tapi tidak boleh benar-benar kering dalam waktu lama, terutama saat sedang berbunga dan berbuah. Di situlah embung berperan, menyimpan air di musim hujan untuk dipakai di musim kemarau.

Kenapa Embung di Atas Bukit Butuh Lapisan Kedap Air

Membangun kolam di puncak bukit memunculkan masalah yang tidak ada di kolam biasa di dataran rendah.

Di dataran rendah, kolam sering bisa menahan air sendiri karena tanahnya lempung dan muka air tanah di sekitarnya relatif tinggi. Air yang merembes keluar tidak terlalu jauh perginya.

Di puncak bukit, kondisinya kebalikannya. Tidak ada lapisan lempung alami yang bisa diandalkan. Batuannya volkanik dan cenderung retak-retak, dan begitu air menemukan celah, dia langsung turun mengikuti gravitasi sampai jauh ke bawah. Kolam yang kelihatan penuh sore ini bisa menyusut drastis dalam hitungan minggu tanpa lapisan penahan.

Persoalan yang mirip juga dihadapi banyak embung lain di Gunungkidul, meski penyebabnya berbeda. Di bagian selatan kabupaten yang berupa kawasan karst, batu gampingnya berongga sehingga air permukaan cepat sekali hilang ke bawah tanah. Sebab geologinya lain, tapi akibatnya sama, yaitu air sulit ditahan.

Karena itu untuk embung di wilayah seperti ini, lapisan kedap air bukan pelengkap. Tanpa lapisan itu, embung yang sudah dibangun dengan biaya besar bisa jadi kolam kosong begitu memasuki kemarau, persis di saat airnya paling dibutuhkan.

Peran Geomembrane pada Embung

Menahan Rembesan ke Dalam Tanah

Ini fungsi paling utama. Geomembrane adalah lembaran polietilen yang sifatnya kedap, digelar menutupi seluruh dasar dan dinding embung, lalu disambung antar lembar sehingga membentuk satu bidang yang menerus tanpa celah.

Hasilnya, air yang masuk ke embung hanya punya dua jalan keluar, yaitu diambil lewat pipa untuk irigasi, atau menguap dari permukaan. Tidak ada lagi yang hilang ke bawah tanah.

Menjaga Volume Bertahan Sampai Akhir Kemarau

Fungsi pertama tadi berdampak langsung ke hal ini. Kalau rembesan bisa ditekan, volume air yang tersimpan bisa dihitung dengan lebih pasti, dan pengelola bisa mengatur jadwal pengambilan air untuk beberapa bulan ke depan.

Untuk kebun buah, kepastian ini berharga. Petani bisa merencanakan kapan menyiram dan berapa banyak, tanpa was-was airnya habis di tengah jalan.

Melindungi Dasar dan Talud dari Gerusan

Dinding embung yang berupa tanah akan tergerus perlahan oleh riak air dan perubahan tinggi muka air. Lama-lama dindingnya longsor sedikit demi sedikit, dan material longsoran itu mengendap di dasar sehingga kapasitas tampungnya berkurang.

Lapisan geomembrane menutup permukaan tanah dari kontak langsung dengan air, sehingga proses ini jauh berkurang.

Menjaga Kualitas Air Tetap Lebih Baik

Karena air tidak bersentuhan langsung dengan tanah, kekeruhan akibat partikel tanah yang terangkat juga berkurang. Untuk air irigasi ini berarti pipa dan sistem penyiraman tidak cepat tersumbat endapan

Bagaimana Geomembrane Dipasang di Embung

Menyiapkan Dasar dan Talud

Permukaan dasar dan dinding diratakan lalu dibersihkan dari batu tajam, akar, dan sisa material keras. Ini tahap yang menentukan umur lapisan, karena benda runcing yang tertinggal akan menusuk lembaran begitu tertekan berat air.

Di lokasi berbatu seperti kawasan perbukitan, sering dipasang lapisan alas berupa geotextile non woven di bawah geomembrane. Fungsinya sebagai bantalan pelindung, supaya batuan di bawahnya tidak langsung bersentuhan dengan lembaran kedap.

Kemiringan talud juga perlu dibuat tidak terlalu curam, supaya lembaran bisa menempel rapi tanpa tertarik berlebihan dan supaya lebih mudah dikerjakan.

Menggelar dan Menyambung Lembaran

Lembaran digelar mengikuti bentuk embung, dimulai dari satu sisi lalu berlanjut ke sisi berikutnya. Antar lembar disambung dengan mesin las khusus supaya sambungannya benar-benar rapat.

Kualitas sambungan ini penting sekali. Satu sambungan yang tidak sempurna sudah cukup untuk membuat seluruh sistem bocor, dan mencarinya setelah embung terisi air jauh lebih sulit daripada memeriksanya sebelum diisi.

Menjangkar di Bagian Tepi

Di sekeliling tepi atas embung dibuat parit penjangkaran. Ujung lembaran dimasukkan ke dalam parit lalu ditimbun kembali, sehingga lapisannya tertahan dan tidak melorot turun ketika embung terisi penuh.

Tanpa penjangkaran yang benar, berat air akan menarik lembaran ke bawah, dan bagian tepi atas embung jadi terbuka.

Melindungi Setelah Terpasang

Geomembrane yang dibiarkan terpapar sinar matahari terus-menerus akan menua lebih cepat. Bagian yang paling rentan adalah area di atas garis muka air, yang terpapar penuh saat volume air sedang surut.

Perlindungannya bisa berupa urugan tanah, lapisan pelindung, atau pemilihan material dengan ketahanan sinar ultraviolet yang memadai kalau memang dirancang tetap terbuka.

Hal yang Menentukan Umur Lapisan Geomembran

Ada tiga hal yang paling berpengaruh, dan ketiganya lebih banyak soal pelaksanaan daripada soal produknya.

Pertama, kebersihan dasar sebelum lembaran digelar. Mayoritas kebocoran embung berawal dari benda tajam yang tertinggal, bukan dari kualitas materialnya.

Kedua, mutu sambungan. Pengelasan yang dikerjakan asal-asalan atau tanpa pengujian akan menyisakan titik lemah yang baru ketahuan setelah air mulai berkurang tanpa sebab jelas.

Ketiga, perlindungan terhadap sinar matahari dan aktivitas di sekitarnya. Untuk embung yang juga jadi tempat wisata seperti Nglanggeran, perlu diperhatikan juga agar pengunjung tidak turun ke area yang berlapis geomembrane.

Ketebalan lembaran sendiri ditentukan lewat perencanaan, menyesuaikan kedalaman air, kondisi tanah dasar, dan apakah lapisan akan tertutup atau dibiarkan terbuka. Karena itu angkanya sebaiknya diambil dari spesifikasi teknis proyek, bukan disamakan begitu saja dengan embung lain.

Lapisan Tak Terlihat yang Membuat Embung Tetap Terisi

Kalau kita berdiri di tepi Embung Nglanggeran, yang terlihat cuma hamparan air berwarna hijau kebiruan dengan latar perbukitan. Lapisan yang menahan air itu tetap berada di bawah, tidak pernah terlihat, dan tidak pernah jadi bahan foto siapa pun. Padahal di embung yang dibangun di atas bukit atau di kawasan yang tanahnya meloloskan air, lapisan inilah yang menentukan apakah bangunan tersebut benar-benar berfungsi atau cuma jadi cekungan kering saat kemarau tiba.

Penggunaan geomembrane embung Nglanggeran dan embung-embung sejenis di Gunungkidul pada akhirnya bermuara pada satu hal sederhana: air yang sudah susah payah ditampung di musim hujan harus masih ada ketika kebun buah membutuhkannya di musim kemarau. Yang menentukan itu bukan sekadar materialnya, tapi juga dasar yang bersih sebelum digelar, sambungan yang diuji, dan penjangkaran tepi yang dikerjakan dengan benar.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Geomembrane merk Urban Plastic, silahkan hubungi melalui: Whatsapp/Mobile Phone : +62 822 9933 3938 (Panni) atau: Email: info@urbanplastic.id